Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
IPMAPUJA News And Media. Diberdayakan oleh Blogger.

    Life Style

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
    Tampilkan postingan dengan label News And Media. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label News And Media. Tampilkan semua postingan

    Galaxy Solusindo Computer Malang

    Galaxy Solusindo Computer Malang

    Melayani :

    CCTV MALANG, SERVICE LAPTOP MALANG, SERVICE KOMPUTER MALANG, SETTING JARINGAN MIKROTIK, DLL.

    NameB.Michael Kilungga Tabuni
    Emailgalaxydinoyo@gmail.com
    Ad TitleGalaxy Solusindo Computer Malang
    MessageAbout Us

    www.galaxysolusindo.blogspot.com membantu memenuhi kebutuhan dunia teknologi informasi dalam hal Perawatan dan Perbaikan Komputer dan Jaringan LAN.

    Kami menangani semua permasalahan seputar Hardware, Software, Networking, Virus, Data Recovery, dan IT Service lainya untuk kalangan bisnis menengah dan kalangan rumah (small business and home users).

    Kami siap menjadi penunjang bisnis atau kegiatan perusahaan anda dalam menghadapi era globalisasi ini dengan menjawab semua tantangan dan perubahan-perubahan di era tersebut dengan memberikan pelayanan atau jasa di bidang Komputer, Jaringan dan teknologi informasi lainya dengan berkunjung ke tempat pelanggan pada waktu yang diinginkan.
    Websitehttp://galaxysolusindo.blogspot.com/
    AlamatJl. MT Hariono Gg XIX (Dinoyo Permai 98) Malang
    Telp : 0341 - 578882
    HP : 085855953502

    Pelaku PEPERA: Mereka Bayar Harga Diri Kami dengan Perempuan dan Supermi

    Pelaku PEPERA: Mereka Bayar Harga Diri Kami dengan Perempuan dan Supermi



  • Pelaku PEPERA 1969 Kab. Paniai di Nabire @MS

  • Nabire, MAJALAH  SELANGKAH – Rabu, (18/7) ibu Marsia Giay, pelaku Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) di Paniai, dalam jumpa persnya bersama Koalisi Rakyat Papua di Nabire kepada wartawan menjelaskan apa yang dialaminya saat PEPERA dilangsungkan di Nabire pada 19 Juli 1969 silam.

    “Sebelum PEPERA dimulai ada tim yang jalan ke kabupaten-kabupaten. Mereka di bawah pimpinan Sudjarwo Tjondronegoro. Mereka datang sama-sama dengan beberapa anggota DPR  Propinsi Irian Barat. Tim ini mengadakan pertemuan dengan para tokoh masyarakat dan adat untuk menyampaikan teknis-teknis pelaksanaan PEPERA. Perempuan tidak diundang waktu itu,”kata Marsia.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, waktu itu ia bersama beberapa orang mendengar, panitia pembentukan Dewan Musyawarah PEPERA (DMP) telah dibentuk. “Kalau saya tidak salah ada sembilan orang panitia. Mereka adalah panitia pembentukan DMP. Waktu itu, pemuda-pemuda protes, karena panitia adalah ipar-iparnya  bupati waktu itu,” kata perempuan pelaku PEPERA ini.

    “Sebelum dibentuk DMP, ada surat dari  Depertemen Dalam Negeri Indonesia untuk pembentukan DMP.  Sedangkan, tentang  Realisasi Pemantapan dan Pengamanan PEPERA, Menteri Dalam Negeri kelaurkan lagi surat  pada bulan Juni 1969.  Lalu, untuk cara kerja Panitia  Pembentukan Dewan Musyawarah PEPERA di Kabupaten-kabupaten mereka keluarkan surat  juga,”kata dia.

    Marsia mengatakan, ia dan beberapa tokoh ketika itu tidak tahu tentang isi suranya. Mereka baru mendapat surat itu beberapa bulan setelah PEPERA dilaksanakan. “Surat-surat  itu hanya panitia yang  pegang. Kami tidak tahu apa maksud surat itu. Saya lihat surat itu beberapa bulan setelah PEPERA. Setelah saya dapat, saya simpan. Tetapi, sekarang  sudah hilang. Saya pindah-pindah rumah jadi sudah hilang ,”katanya.

    Kata dia, beberapa orang termasuk dirinya mendengar informasi bahwa DMP dipilih oleh rakyat. “Kami dengar DMP dipilih oleh rakyat. Tetapi, masyarakat tidak memilih. Mereka bilang DMP sudah ada. Mungkin mereka pilih diam-diam. Waktu itu saya dengar saja, mereka yang dipilih itu di tampung di satu tempat. Ada beberapa pegawai orang Jawa juga menjadi anggota DMP. Ada yang namanya saya ingat, pak  Fachrudin dan Saifuddin,”paparnya.

    “Di tempat penampungan, ada beberapa perempuan  dari Jawa. Perempuan-perempuan itu tinggal bersama-sama dengan tokoh-tokoh Papua di penampungan. Makanan untuk mereka disiapkan nasi, supermi dan saures (sarden:red). Supermi dan saures adalah makanan baru yang enak waktu itu,” jelasnya.
    Perempuan yang pada tahun 2001 menjadi saksi PEPERA di Belanda itu menjelaskan, orang-orang yang menjadi DMP saat itu tidak bisa berbahasa Indonesia. Mereka lebih banyak menguasai bahasa Belanda. “Mereka tidak bisa bahasa Indonesia jadi diajari oleh pegawai-pegawai dari Jawa. Setiap malam mereka diajarkan bahasa Indonesia,” kata pegawai lurah itu.

    Ia bersaksi, PEPERA di wilayah Paniai di laksanakan di Nabire pada tanggal 19 Juli 1969. Mereka yang hadir adalah utusan khusus  PBB Dr. Fernando Ortiz Sanz  dan para undangan lainnya. Ketua Pelaksana PEPERA adalah  Sudjarwo Tjondronegoro. “Saya ingat, PEPERA di Paniai dilakukan di samping kantor Bupati Nabire sekarang. Dalam jadwalnya, PEPERA diawali di Merauke  pada tanggal 14 Juli 1969. Tanggal 16 Juli 1969 digelar di Jayawijaya.  Selanjutnya, di Fak-fak tanggal 23 Juli 1969.  Di Sorong, tanggal 26 Juli 1969.  Di Manokwari, tanggal 29 Juli 1969. Di Biak tanggal 31 Juli 1969.  Dan, PEPERA diakhiri  di Jayapura  tanggal 2 Agustus  1969,” kata dia.

    “Pada hari pelaksanaan PEPERA di Paniai,  ada 175 orang saja. Padahal, saya ingat jumlah penduduk di Kabupaten Paniai saat banyak. Banyak orang menunggu karena ada informasi bahwa setiap orang memilih. Tapi, tidak. Saat itu, perempuan yang ikut adalah  Ibu Elsi Jacobus Sawo, Ibu Levina Sajori/Aduari, Nn. Anthonia Pakage, Salina Yoweni Imbiri, Ibu Ketsia Pakage, Nn. Martha Sahori, N. N. Ruth Latipai, Ibu G. Dakosta Dawaka, Marcia Giay, Ibu Frederika Gobay, Ibu Diana Danomira/Korawa, Ny. Juliana Maria Sawo, Ibu Leonora Salomi, Mailopum/Lohiy, Ibu Maida Tenoje, dan saya sendiri,” tuturnya.
    Ia mengungkapkan, yang lain laki-laki semua. Ada juga orang Jawa saat itu. Saat itu pemuda-pemuda, perempuan, dan beberapa orang tua mau demo tetapi tidak bisa. Ada tentara banyak dan tidak bisa buat apa-apa. Ada KOPASANDA, Raider, dan Polisi.

    Marsia berkisah, sebelum PEPERA berlangsung, ia melihat ada beberapa wartawan orang barat dan wartawan Indonesia. Ada juga tentara bersenjata lengkap mengawasi proses PEPERA. “Saat itu saya duduk sebelum orang terakhir, di belakang. Mereka semua angkat tangan untuk bicara. Saya juga angkat tangan. Saat mereka hitung, saya tidak dihitung. Saya angkat tangan terus. Ada wartawan orang Barat yang membawa kamera itu  bilang kepada panitia tetapi mereka malas tahu. Saya dan beberapa perempuan angkat tangan waktu itu untuk bicara. Kami mau bicara tidak boleh,” katanya mengurai.

    Selanjutnya, kata dia, mereka, para laki-laki yang angkat tangan itu diminta untuk bicara. “Semua yang angkat tangan itu bicara sama. Mereka bilang,  kami merdeka tahun 1945. Mereka bilang, kita kumpul untuk apa. Setelah mereka bilang begitu, mereka lompat-lompat. Ada yang menangis saat itu. Termasuk para perempuan menangis. Tapi, mereka malas tahu. Kami takut jadi diam saja,” kata Marsia.

    “Mereka buat sangat singkat. Setelah selesai, mereka tanda tangan semua. Kami beberapa orang tidak tanda tangan. Katanya, mereka mau kasih barang. Mau kirim supermi dan beras. Sebelum PEPERA dilaksanakan juga, mereka bagi-bagi supermi dan saures. Beberapa anggota  DMP dikasih radio, gergaji, dan sekap. Mereka juga dijanjikan akan diberi uang. Selanjutnya saya tidak tahu. Kami pulang dengan menangis,” kata Marsia dengan mata berkaca-kaca.

    Ia mengatakan, setelah beberapa hari kemudian, dirinya dan orang-orang di Paniai mendengar informasi dari Jayapura, Papua bergabung dengan Indonesia. “Kami dengar Papua ikut Indonesia. Kami juga dengar, di luar gedung PEPERA di Holandia (Jayapura:red) banyak orang Papua yang protes tetapi disapu bersih oleh militer Indonesia dengan senjata dan neriam, diculik, dibunuh, disiksa, dan dihina-hina. Banyak orang yang menangis dengar informasi ini. Mulai saat itu, pemuda-pemuda banyak yang masuk menjadi OPM,” katanya dengan suara menurun.

    “Saya telah yakin, kebenaran pasti terungkap. Kebohongan juga pasti terungkap. Hanya soal waktu. Kalau saya salah bicara atau tipu. Saya berdosa. Suatu saat orang lain akan tahu bahwa saya tipu. Tapi, kalau benar. Orang lain akan tahu juga. Satu hal yang membuat saya menangis hingga saat ini adalah waktu itu tidak banyak pelajar. Tidak bisa protes. Jadi, mereka bayar harga diri kami dengan perempuan nakal, supermi, dan saures,” kata Marsia suara tersendat-sendat.

    “Papua Barat Titipan dari PBB”

    “Papua  Barat Titipan dari PBB”

    (dari kiri-kanan): Presiden West Papua National Authority (WPNA), Pdt. Terryanus Israel Yocku, Juru Bicara (Jubir) Perdana Menteri (PM) Negara Republik Federal Papua Barat, Jack Wanggai dan Gubernur WPNA Wilayah Manokwari, Markus Yenu.
    (dari kiri-kanan): Presiden West Papua National Authority (WPNA), Pdt. Terryanus Israel Yocku, Juru Bicara (Jubir) Perdana Menteri (PM) Negara Republik Federal Papua Barat, Jack Wanggai dan Gubernur WPNA Wilayah Manokwari, Markus Yenu.
    JAYAPURA -
    Ada pernyataan menarik diungkapkan salah satu kelompok yang menamakan dirinya sebagai pejabat Federasi Negara Papua Barat (NFPB). Mereka mengatakan, terkait masa depan penyelesaian permasalahan politik di Papua Barat, maka ada beberapa hal yang perlu diketahui seluruh public baik public Negara Federal Papua Barat (NFPB) maupun public NKRI serta public Internasional.
    Antara lain adalah mengenai Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) dan pandangan politik dari West Papua National Authority (WPNA) terhadap persidangan yang akan dijalani oleh Presiden Negara Federal Papua Barat (NFPB), Forkorus Yoboisembut, S.Pd dan Perdana Menteri (PM) NFPB, Dominikus Sorabut, dkk yang ditetapkan sebagai tersangka kasus makar dalam Kongres Rakyat Papua (KRP) III lalu, di Lapangan Zakheus, Padang Bulan.
    Juru Bicara (Jubir) dari Perdana Menteri (PM) NFPB, Jack Wanggai yang didampingi oleh Presiden WPNA, Pdt. Terryanus Israel Yocku dan Gubernur WPNA Wilayah Manokwari, Markus Yennu saat melakukan jumpa pers, di Prima Garden, Abepura, Jumat (27/01) kemarin sore.
    Menurut Pdt. Terryanus Israel Yocku, Pemerintah Indonesia perlu sekali mengakui keberadaan Papua Barat didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan titipan dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari resolusi PBB 2504 butir ke-2, yang berbunyi bahwa diberikan kepada Indonesia ijin untuk membangun Papua Barat selama 25 Tahun lamanya, tidak mengusai dan memiliki Papua Barat sebagai bagian dari NKRI. 

    PAPUA MERDEKA! News: Bersuara Karena & Untuk KEBENARAN!

    Posted: 14 Dec 2011 08:35 PM PST
    Jayapura - Ketua Umum Persekutuan Gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman, meminta polisi dan anggota TNI segera ditarik dari Paniai. Konflik Paniai telah menimbulkan jatuh korban dan dapat memicu kekerasan berkelanjutan."Gereja tidak akan sependapat bila polisi menyerbu gerombolan hingga timbul jatuh korban. “Itu tindakan biadab, melanggar HAM, aparat maunya apa. OPM juga umat Tuhan,”
    Posted: 14 Dec 2011 05:44 PM PST
    Analysis by Catherine Wilson SYDNEY, Dec 14, 2011 (IPS) - The Indonesian government’s offer of development for West Papua, following the crackdown by security forces on a pro-independence meeting in Jayapura in October, is unlikely to succeed in the absence of political dialogue and calls for self-determination are expected to continue. This Published: http://www.ipsnews.net/news For
    Posted: 14 Dec 2011 05:32 PM PST
    Belanda, Rabu (14/12), parlemen Belanda menyetujui mosi penolakan rencana penjualan tank ke Indonesia. Rencana penjualan sejumlah tank Leopard oleh Kementerian Pertahanan ditolak Parlemen Belanda karena Belanda tidak ingin terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.This source:Radio Nenderlad  Mayoritas anggota parlemen menyetujui mosi yang diajukan partai Kiri Hijau (
    Posted: 14 Dec 2011 05:24 PM PST
    <!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]>
    You are subscribed to email updates from Suara Baptis Papua-News
    To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
    Email delivery powered by Google
    Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

    BERITA UNTUK PAPUA ! News Bebaskan Dialog Jakarta-Papua dari Kepentingan Politik


    JAKARTA, IPMAPUJANEWS.COM - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Muridan Widjojo berharap agar proses dialog Jakarta dan Papua bebas dari kepentingan-kepentingan politik. Unsur-unsur representasi, format, mekanisme dan agenda dialog harus merupakan kesepakatan pihak-pihak yang berkonflik.
    "Perbedaan-perbedaan posisi politik sebaiknya tidak ditonjolkan agar suasana ramah dan positif bisa terbangun. Niat yang kuat untuk saling memberi dan menerima akan membuka jalan bagi dialog yang produktif, adil, dan bermatabat," ujar Muridan dalam seminar bertajuk "Dialog untuk Memutus Siklus Konflik dan Kekerasan di Papua" yang berlangsung di Pusat Studi Jepang UI, Depok, Selasa (29/11/2011).
    Ia menilai, semakin tinggi kadar sepakatan di dalam proses pra-dialog dan dialog, akan semakin tinggi pula tingkat legitimasi hasil dialog. "Dan ketika semakin tinggi legitimasi hasil dialog itu, semakin tinggi pula kemungkinan keberhasilan implementasinya bagi rakyat Papua dan pemerintah ke depannnya nanti," kata Muridan.
    Oleh karena itu, ia berharap, agar pihak pemerintah dan pihak-pihak yang mewakili masyarakat Papua dapat membangun komunikasi yang konstruktif untuk menemukan kepentingan dan platform bersama. Dialog tersebut, kata Muridan, harus dapat menghasilkan kesepakatan damai yang dapat diterima oleh sebagian besar rakyat Papua, pemerintah, dan publik internasional.
    "Karena itu kita semua berkepentingan untuk menjaga agar proses dan subtansi hasil dialog tidak merupakan hasil rekayasa yang sepihak. Jika rekayasa terjadi di luar kontrol, kita akan terjebak kembali di dalam kubangan konflik yang sama," kata Muridan.
    Proses pelaksanaan dialog Jakarta-Papua terus diupayakan untuk mengatasi berbagai persoalan di Papua. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, usai rapat terbatas mengenai persoalan di Papua pada Rabu (9/11/2011) sempat menyingung soal upaya pemerintah terhadap persoalan tersebut. Menurut Presiden, langkah dialog penting dalam kerangka mendorong penyelesaian permasalahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Papua.
    Pemerintah juga telah membuat Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang diketuai oleh Bambang Dharmono. Selain itu, pemerintah juga sudah menunjuk Farid Husein untuk menjadi perantara untuk mempercepat proses dialog Jakarta-Papua.

    * Brimob Papua Kembali Menewaskan 8 Warga Sipil * Calls for Aust, US to raise Papua concerns * Kesejahteraan Bukan Akar Masalah Papua * LIPI: Isu Papua Merdeka Jadi Alat Politik * Update, Rakyat Papua Tuntut Referendum * Obama harus singgung kasus papua


    Posted: 15 Nov 2011 07:50 AM PST
    "Please advocacy and independent investigation access is limited and difficult to enter the scene" JUBI --- Warga Sipil Papua kembali ditembak oleh Anggota Brimob di Degeuwo, lokasi tambang  emas secara  tradisional, Kabupaten Paniai, Papua.  “Kejadian ini terjadi tanggal 13 November hari minggu,” ungkap Servius  Kedepa, seorang aktivis lembag swadaya masyarakat (LSM) lokal, Selasa (15/11)
    Posted: 15 Nov 2011 12:40 AM PST
     Karlis Salna, AAP South-East Asia CorrespondentHuman rights groups have called for Australia and the United States to use meetings at the East Asia Summit in Bali to press Indonesia into addressing concerns of ongoing abuse and violence in Papua. Prime Minister Julia Gillard will meet with Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono on Sunday, following the conclusion of the summit of
    Posted: 14 Nov 2011 09:01 PM PST
    Socratez Sofyan Yoman/dok/pgbp Rakyat Papua  memang manusia  yang terlupakan atau terabaikan dalam segala aspek.  Karena wilayah Papua dicaplok, diduduki dan diintegrasikan ke dalam wilayah Indonesia dengan tujuan kepentingan ekonomi, politik, keamanan dan pemusnahan etnis Melanesia dan digantikan dengan etnis Melayu dengan Program Transmigrasi yang massif.      Wilayah Papua dikelola
    Posted: 14 Nov 2011 08:29 PM PST
    Begitu banyak kebijakan, tapi hanya soal fisik. “Masyarakat Papua merasa terpinggirkan."  VIVAnews – Peneliti LIPI, Elisabeth Adriana mengatakan, isu Papua Merdeka sulit diakhiri dikarenakan wacana tersebut telah menjadi semacam alat politik untuk memperoleh perhatian pemerintah.  “Ideologi itu sulit diakhiri, karena adanya distrust kepada Jakarta,” ujar Elisabeth dalam acara Dialog Komite
    Posted: 14 Nov 2011 04:53 PM PST
    Tuntut Referendum, Ribuan Orang Papua Turun ke Jalan Okezone - ‎13 hours ago‎ JAYAPURA - Ribuan rakyat Papua yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Senin sore tadi melakukan aksi long march sepanjang 15 kilometer guna menuntut referendum bagi masyarakat Papua. Aksi long march dari Distrik Abepura menuju Kota ... Massa Desak Referendum Ulang JPNN.com - ‎13 minutes
    Posted: 14 Nov 2011 04:28 PM PST
    Barack Obama/ AFP Kondisi riil hak asasi manusia (HAM) di papua dan papua barat sangat memprihatinkan, pembantaian dan pengorbanan rakyat papua baik masyarakat asli papua, pendatang bahkan aparat TNI – polri tidak bisa di hitung banyaknya. Pemerintah Indonesia mengambil alih papua sejak 1969 melalui penentuan pendapat rakyat (PEPERA), namun konflik papua di bawah pemerintah Indonesia tidak ada

    "BINTANG PAPUA "Presiden Indonesia membela militer di Papua

    "BINTANG PAPUA "Presiden Indonesia membela militer di Papua

    Diterbitkan oleh: http://newsfeedresearcher.com/data/articles AS Presiden Barack Obama telah dibahas bergerak menuju kerja sama militer lebih besar dengan Indonesia selama KTT ASEAN di Bali. Obama adalah presiden Amerika pertama yang menghadiri dan dia telah melakukan diskusi pribadi dengan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Obama mengatakan mereka telah sepakat untuk menempatkan lebih

    Dari Puncak Jaya, Anak Gunung Merangkai Asa Menuju Britania

    Dari Puncak Jaya, Anak Gunung Merangkai Asa Menuju Britania 

    Puncak Jaya - Kunjungan Frengky Pare Kagoya (14), anak seorang petani di Kotamulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, ke rumah Pak Kapolsek sore itu mungkin takkan pernah ia lupakan. Di rumah itu, Frengky tak sengaja membaca sebuah iklan surat kabar lokal yang menyedot perhatian. Isinya, penjaringan bibit muda pesepakbola Tunas Garuda.

    “Saya minta Bapak (Kapolsek-red) bawa pulang (koran),” kata siswa kelas 1 SMAN I Kotamulia, Puncak Jaya, Papua, itu saat ditemui detikcom di Jayapura, Sabtu (11/6/2011).

    Sesampainya di rumah , Frengky langsung menunjukkan koran itu ke kakak sulungnya, Verina Kagoya. Sekata dengan orangtuanya, Verina, PNS di Dinas Pertanian setempat, langsung setuju adik bungsunya mengikuti seleksi Tunas Garuda di Sentani, Jayapura, 45 menit perjalanan udara dari Puncak Jaya.

    “Kakak bilang ‘ya sudah kok turun’. Kakak yang biayai naik pesawat,” cerita Frengky.

    Di stadion Barnabas Youwe, Sentani, Jayapura, asa itu pun mulai dirangkai. Frengky, yang selama di Jayapura tinggal di kos kakaknya yang lain, terpilih menjadi empat pemain terbaik seleksi Tunas Garuda. Bersama Terens Owang Prisca (15), Mariano Orthis Padokan (15) dan Yunus Novriandi Modow (16), ia akan dikarantina di Jakarta untuk mengikuti pelatihan.

    “Empat anak terbaik dari 9 kota akan kita pilih 18 untuk bertanding melawan tim Arsenal junior di London akhir Oktober ini,” kata Barnas Kamora, konsultan komunikasi DPP Partai Demokrat, penyelenggara Tunas Garuda.

    Ditanya soal London, Frengky, yang baru sekali menginjak Jakarta, ini mengaku tidak punya bayangan mengenai ibukota Inggris itu. “Saya cuma ingin ke sana,” katanya.

    Di antara 4 anak terbaik itu, Frengky-lah yang paling minim pengalaman. Jika Yunus dan Orthis pernah ikut bergabung di timnas usia dini, Frengky baru bergabung di tim Kabupaten Puncak Jaya . Di kampungnya yang berada di ketinggian 4000an meter dpl itu, pun belum ada sekolah sepakbola.

    �“Saya cuma main-main biasa saja. Baru dapat event, kita turun,” kata Frengky mengaku biasa bermain di lapangan ‘menanjak‘ ini.

    Di Jakarta nanti, Frengky berjanji akan berlatih sebaik mungkin, agar pengorbanan kakaknya, yang telah membelikannya tiket pesawat Rp 2,4 juta, tidak sia-sia. Tak hanya sampai di ibukota, anak gunung itu pun ingin menjajal kota yang tak pernah terbayangkan olehnya, London.






    (lrn/fjr)

    " Sent from Smartfren Blackberry, Hebat Cepat Hemat "

    Mantap, Bocah Papua Raih Emas di London


    o400L Mantap, Bocah Papua Raih Emas di London
    Mantap, Bocah Papua Raih Emas di London. Zakariaz Benny Nuboba, pesenam muda dari Papua Barat yang berhasil menjadi juara di London, Inggris pada keikutsertaannya yang pertama kali.
    Bukan hanya pada cabang olahraga atletik, ternyata Papua Barat juga menyimpan bibit unggul pesenam. Terbukti, pesenam junior dari provinsi ini berjaya dalam ajang Heathrow Aerobic International Club Championship, yang digelar di London, Inggris Raya, awal September lalu.
    Zakariaz Benny Nuboba (13) siswa SMP Negeri 5 Kwawi, Manokwari, Papua Barat, pulang dengan senyum lebar. Di lehernya dikalungkan sebuah medali emas hasil kerja kerasnya selama tiga bulan berlatih intensif senam aerobik di Manokwari dan Jakarta.
    “Rasanya senang, apa lagi tahu kalau saya menang,” ujar Nando, panggilan akrabnya, saat ditemui, Kamis (15/9/2011).
    Bocah kelas 3 SMP ini seminggu lalu baru saja memenangi kejuaraan dunia senam aerobik perorangan untuk usia anak-anak. Prestasinya membawa nama Indonesia sekaligus Papua Barat, di pentas dunia olahraga aerobik. Dia telah mengalahkan 21 peserta dari 12 negara yang ambil bagian.
    Kejuaraan ini, ujar Fahmy Fachrezzy, pelatihnya, baru pertama kali diikuti oleh Zakariaz, bahkan baru kali pertama diikuti oleh pesenam dari tanah Papua. Tapi, dalam penampilan perdananya di sana, dia mampu memukau para juri, sehingga didapuk sebagai pemenang. Bahkan, dia diminta mempertontonkan sekali lagi performanya di hadapan para peserta kelas remaja dan dewasa.
    “Tidak ada kesalahan sama sekali. Sempurna dan rapi. Banyak pelatih yang tertarik setelah melihat penampilannya. Saya juga tak menyangka, karena dia baru pertama kali ikut kejuaraan,” kata Fahmy.
    Pelatih dari Club Estafet Indonesia di Jakarta ini menjelaskan, prestasi Zakariaz adalah contoh sekaligus perangsang bagi atlet senam junior di Papua Barat, dan Indonesia. Masalah regenerasi dan pencarian bibit pesenam relatif sulit. Dia sudah berkeliling Tanah Air, tapi mencari pesenam junior yang memiliki skill, konsentrasi, dan motivasi besar, itu susah.
    Umumnya, pemerintah menarget tinggi, tapi dukungan dan fasilitas yang disediakan terbatas. Yang sangat minim adalah fasilitas pencarian bibit pesenam muda.
    Selama ini, kata Fahmy, tak ada kejuaraan nasional, sehingga pelatih kesulitan mencari dan mengembangkan bibit pesenam muda tersebut. Siapa sangka, ada bibit unggul senam aerobik dari tanah Papua. Jika regenerasi dan pencarian bakat ini dilakukan, akan selamanya prestasi senam di tanah air tertinggal jauh dengan negara-negara lain.
    Diakui Ketua KONI Papua Barat Yan Renwarin, prestasi olahraga akan diraih dengan dukungan tiga hal, manajemen pengurus olahraga, pelatih, dan atletnya. Dia tak mengelak bahwa keberangkatan Zakariaz ke London tidak mendapat dukungan penuh. Namun hasil yang diperoleh di luar dugaan.
     
     photo MISS_GHANA_BOOT_CAMP_Naijapalsdotcom_zps5ddf8c77.jpg
     photo NewPicture7_zps016b21bf.png