Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
IPMAPUJA News And Media. Diberdayakan oleh Blogger.

    Life Style

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
    Tampilkan postingan dengan label Mahasiswi Kampus. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Mahasiswi Kampus. Tampilkan semua postingan

    Ayam Kampus Juga Punya Kode Etik

    Ayam Kampus Juga Punya Kode Etik

    Ayam Kampus Juga Punya Kode Etik
    TEMPO/ Arie Basuki
    TEMPO.CO , Jakarta:Di dunia 'ayam kampus' ada pelajaran kode etik yang berisi ketrampilan dan kepribadian. Etika ini yang mengatur perilaku para ayam agar tertib dan tidak "belepotan". Para mucikari biasanya membekali mereka dengan etika itu agar pelanggan puas dengan harga yang sudah dibayar. Tempo mendapati kode etik yang banyak disepakati antara mucikari dan ayamnya. Ada yang ringan, ada juga yang berat.

    Menurut mucikari bernama Nora, pelajaran utama adalah menanamkan di benak para ayam bahwa pelanggan atau tamu adalah raja. Artinya, kata dia, ayam harus sopan dan ramah, juga patuh. "Ya misalnya mendengarkan dengan penuh perhatian curhat si tamu, dan jangan sekali-kali memotong pembicaraan," katanya kepada Tempo beberapa waktu lalu.

    Ayam peliharaannya juga dilarang memainkan ponsel saat bertugas. Karena dalam banyak kasus, kata Nora, ada ayam diadukan tamu karena asyik main "game" sendiri di atas ranjang. Dan, ada juga tamu yang mengadu disebabkan harus menunggu makan ayamnya terlalu lama--karena sembari balas pesan BlackBerry. "Hal itu dievaluasi," ujarnya.

    Lebih spesifik lagi, Nora juga mengajari ayamnya cara menuang minuman ke dalam gelas. Misalnya; pada saat mengangkat gelas, si ayam diajari untuk memegang gelas bagian bawah, atau jika gelas itu berkaki, ayam akan diajari untuk memeegang kaki gelas tersebut. Itu menurutnya standar. Bahkan, karena pihaknya juga mengajari sampai pada tahap membuka pakaian ketika hendak berhubungan intim. "Pakaian dibuka perlahan. Tidak boleh langsung bugil," ujarnya.

    Doni, mucikari lain, mengatakan, cara mengambil uang dari pelanggan juga ada kode etiknya. Ia mengatakan, ketika tamu memberi uang tunai, maka jangan langsung diambil. Tetapi diambil ketika tamu sudah pergi. "Untuk mengesankan si ayam tidak kegaresan uang," ujarnya di kesempatan terpisah.

    Ketika sedang bertugas, ayamnya juga dilarang memamerkan harta benda di depan tamu, seperti telepon genggam mahal atau laptop. Biasanya Doni meminta telepon seluler si ayam dimatikan. Hal itu dilakukan untuk menghindari kesan sombong. Meski rata-rata ayamnya memiliki mobil, ia juga tetap mengharuskan mereka menemui pelanggannya dengan taksi.

    Jika ada sang ayam sedang datang bulan, Doni tidak membolehkan ayamnya itu libur. Apalagi jika sedang banyak order. Dalam aturannya, permintaan pelanggan tidak boleh ditolak. Ia mengaku memiliki ramuan obat untuk menghentikan keluarnya darah menstruasi. "Obat itu diracik secara tradisional oleh ibu gue, manjur!," ujarnya terbahak.

    Tetapi, Doni akan langsung menolak jika ada pelanggan yang meminta dilayani kasar di atas ranjang. Jika dirinya mendapat laporan dari ayamnya soal tamu yang memiliki kelainan dan membahayakan, tamu itu akan dimasukan ke dalam daftar hitam. "Pernah ada pelanggan yang bayar di muka belasan juta, tetapi ML-nya harus mukulin culai gue dulu. Gue tolak lah," katanya. Namun ia tidak menolak juga si ayam diminta menemani tamu untuk memakai obat terlarang.

    Ayam kampus juga memiliki hari kerja juga. Para ayam peliharaan Nora, dalam sepekan bisa empat hari kerja. Jam operasionalnya sendiri mulai dari jam 19.00 WIB sampai 02.00 WIB. Yang pasti, aturan ini mengikat. "Jikalau si culai masuk pada hari Sabtu, maka sabtu depannya mereka bisa mengambil libur," kata Nora.


    HERU TRIYONO| PACIFICA

    Foto Mahasiswi BiSPAK narsis di HP BBM

    Foto Mahasiswi BiSPAK narsis di HP BBM

    Foto Mahasiswi BiSPAK narsis di HP BBM berfoto telanjang bugil dan memamerkan payudaranya serta vaginanya yang lower memek basah
    pengen ngentot si gadis berparas manis ini tak lain jadi wanita pangilan di ibu kota jakarta
    Foto mahasiswi foto bugil di BBM
    ABG Amoy Wajah Cina Mata sipit Bugil Pamer Memek I foto Hot I Foto Bugil I Cewek Bispak I Cewek SMP I ABG Sexy I Cewek nakal I Mahasiswa hot I Ayam Kampus Mahasiswi cantik ini sedang berpose hot saat berada di kamar kostnya. Dia bugil sambil menantang temannya yang menjadi juru fotonya. Sungguh indah tubuh bugil mahasiswi cantik ini saat sedang berada di atas kasur.
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7
    http://goo.gl/hMxcd7

    Tarif Mahasiswi Double Jobs

    Tarif Mahasiswi Bispak

    Mahasiswi di Indonesia tampaknya semakin bayak yang terjerumus ke dunia prostitusi. Sebutan mahasiswi bispak (bisa dipakai) pun tak malu disandangnya. Ini tak bisa dilepaskan karena banyak mahasiswi yang nekat melakukan apa saja untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi.

    Sulit memenuhi kebutuhan hidup di kota besar, seorang mahasiswi rela menjual diri serta keperawanan mereka terhadap lelaki hidung belang.

    Biasanya mahasiswi ini beraksi pada-pada tempat tertentu atau melalui agen jasa penyedia bispak ayam kampus di Indonesia.

    Agen jasa penyedia bispak atau yang sering disebut EOBIS. EOBIS (Sebutan Agen Bispak) bertugas mencari ayam kampus baru di linkungan universitas swasta maupun negeri di Indonesia untuk di jadikan karyawan bispak mereka.

    Para Bispak-Bisapak ini ketika sudah berada di dalam agen EOBIS nantinya akan menandatangani sebuah kontrak kerja dengan agen tersebut. Penandatanganan kontrak kerja ini dimana nantinya para bisapak tersebut akan mendapatkan masa tenggang dari pekerjaannya.

    Apabila bispak ini melanggar dan berhenti sebelum masa tenggang dari kontraknya bispak ini akan dikenakan denda yang sangat besar. Selain itu apabila ayam kampus atau para bispak telah bergabung dengan EOBIS, mereka akan mendapatkan beberapa fasilitas yang sangat besar. Fasiitas itu seperti mobil, makeup dan lainnya.

    Yang lebih fantastis lagi, EOBIS ini akan merawat para bispaknya sehingga bispaknya akan tampil seperti para artis. Maksudnya ialah para bispak EOBIS ini akan disuntik putih satu persatu secara bertahap agar kulit mereka bersinar seperti kulit putih nan sehat!

    Tujuan tersebut kata seorang agen penyedia mahasiswi bispak, bertujuan untuk menarik hati pelanggan agar mereka tertarik dengan bispak EOBIS yang mereka tawarkan.

    Sebagai gambaran, standar harga bispak, harga sewa pelacur, harga sewa PSK rata-rata di patok bervariasi: Wanita Untuk kelas 5 = Rp. 100,000 (PSK Pinggir Jalan)
    Wanita Untuk Kelas 4 = Rp. 200,000 (PSK Pinggir Jalan)
    Wanita Untuk Kelas 3 = Rp. 300,000 (PSK Pinggir Jalan, Salon,dll)
    Wanita Kelas Mesz = Rp. 500,000 (PSK Rumah Bordil)
    Wanita Kelas Eksekutif = Rp. 800,000 (PSK Karaoke, Cafee,dll)
    Wanita HighClass (Model)= Rp. 1.500,000(Panggilan, terselubung, Model, SPG dll)
    Wanita kelas VVIP = Rp. 5.000.000 (SPG, Model, EOBIS)

    Nah bukan hal yang tabu lagi bagi kita semua untuk mengetahui fenomena ayam kampus di Indonesia seperti yang pernah di tulis blak-blakan.com dengan judul: Mengungkap Skandal Ayam Kampus Di Indonesia. Dari hal tersebut dapat di jelaskan betapa kejamnya derasan hidup di dunia ini hanya untuk bertahan hidup dan bersaing dengan orang lain.

    Entah apa yang menjadi alasan utama beberapa mahasiswi memutuskan untuk terlibat di dunia pelacuran ini. Namun yang seringkali menjadi alasan adalah bahwa mereka harus membayar uang kuliah sendiri, kecewa dengan pacar ataupun korban pemerkosaan saat masih duduk di bangku sekolah dan alasan yang berkesan klise lainnya.

    Isi tasnya tidak lupa selalu ada kondom dengan berbagai bentuk dan merek agar dapat setiap saat mampu melayani langganan bookingan yang hadir menghampirinya. Ada Ayam kampus yang mencari langganan sendiri maupun melalui jasa ke pihak ke-3 atau lewat perantara.(Sumber)

    Rekrut Ayam Kampus Pakai 'Intelijen'

    Rekrut Ayam Kampus Pakai 'Intelijen'

    Rekrut Ayam Kampus Pakai 'Intelijen'
    Ilustrasi prostitusi. Irishexaminer.com
    TEMPO.CO , Jakarta:Empat wanita berbadan bak boneka Barbie memasuki sebuah ruangan berarsitektur Yunani. Mereka tertawa riang dan saling berbicara satu sama lain. Tak ada tanda psikologis sedang berada di bawah ancaman. Keempatnya kemudian duduk berjajar di sebuah sofa panjang. Berhadapan dengan seorang lelaki berkemeja hitam dan berambut jabrik. Mereka diwawancara untuk menjadi: Ayam kampus.


    "Mereka adalah calon culai (ayam kampus)," kata Nora, 38 tahun, mucikari yang mengkoordinir keberadaan para ayam kampus di tiga tempat hiburan besar di Jakarta Pusat kepada Tempo, dua pekan lalu.

    Nora mengatakan, perekrutan ini dilakukan rahasia. Seleksinya ketat dan terbatas. Praktik pergundikan yang dilakukannya dikelola profesional. Ia membuat perjanjian hitam di atas putih dengan ayam peliharaannya. "Selayaknya sistem manajemen saja," ujarnya. Contoh isi perjanjian itu, kata dia, misalnya tidak boleh menyeberang ke mucikari lain tanpa ijin. "Juga tentang gaji dan aturan lainnya," kata Nora. (Pembagian komisi baca tulisan di bagian lain)


    Nora terlihat santai menjamu keempat tamunya itu. Ia mengaku tidak ingin membuat suasana menjadi tegang. Karena dirinya tahu, calon culai itu rata-rata baru dan butuh pengalaman. Malam itu, yang diwawancara adalah mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Kebanyakan, peliharaannya adalah model yang menyambi menjadi mahasiswi. "Harganya tentu lebih mahal," katanya.

    Dalam diskusi dengan para calon culai ia tampak terang-terangan. Ia bertanya kepada empat mahasiswi itu mulai dari nama, pengalaman kerja esek-esek dan orientasi hidup. Sebagian besar, kata dia, orientasinya adalah uang. "Gue juga nanya dari mana mereka tahu diri gue, dan tahu kerjaan ini dari mana," tutur Nora yang memiliki puluhan culai.

    Menurutnya mudah sekali melacak calon culainya yang berbohong. Karena ia memiliki mata-mata di kampus dan tempat hiburan. Riwayat hidup culai peliharaannya semua ada di tangannya. "Gue punya intel dimana-mana, data gue lengkap," tuturnya.

    Setelah lulus dari seleksi pertama, kata Nora, calon culai dikumpulkan menjadi satu dengan peserta lain yang sebelumnya diwawancara terpisah. Proses tersebut menurutnya dapat digambarkan sebagai suatu rapat besar yang dipimpin oleh pihak manajemennya. Nora tidak mengijinkan para calon culainya itu diajak bicara dengan Tempo. "Jangan, gak penting," katanya dengan nada serius.


    HERU TRIYONO | PACIFICA

    Kisah Ayam Kampus yang Jadi Budak Seks

    Kisah Ayam Kampus yang Jadi Budak Seks

    Kisah Ayam Kampus yang Jadi Budak Seks
    Ilustrasi pelacuran / prostitusi. REUTERS/Edgar Su
    TEMPO.CO , Jakarta:Magdalena, 24 tahun, bukan nama sebenarnya, rela melakukan apapun demi uang, meski dengan cara menjual diri. Sudah lebih dari lima tahun ia berprofesi sebagai ayam kampus. Diajak ke luar pulau bahkan luar negeri kerap ia jabani. “Kemana saja, asalkan sanggup bayar gue,” kata perempuan berbodi sintal ini kepada Tempo, pekan lalu, di sebuah kafe di bilangan Gadjah Mada, Jakarta Pusat.

    Keputusan dirinya menjadi ayam didasari kecemburuan dengan gaya hidup teman kampusnya. Perempuan berdarah Manado ini ingin seperti mereka yang memiliki barang mewah. Seperti pakaian dan tas bermerek, telepon pintar terkini, mobil, dan tinggal di apartemen.

    Sebenarnya, kondisi ekonomi keluarganya dibilang pas, tidak kurang-kurang amat. Tetapi pergaulan jetset nan glamorlah yang menuntutnya merogoh kocek dalam dalam. Alhasil, uang bayaran semesteran yang dikirim orangtuanya dari Manado selalu "diembat". Karena semakin lama uang di dompetnya tidak cukup dengan gaya hidupnya, Magdalena pun nekat menjual diri.

    Jaringan prostitusi awalnya ia dapatkan di sebuah diskotik besar di Jakarta Pusat. Di situ ia mulai banyak bersentuhan dengan mucikari kelas kakap. Dengan modal paras cantik dan bodi aduhai, tak sulit baginya menjadi peliharaan salah satu mucikari terbesar di Jakarta. Mucikari, yang juga artis tersebut, cukup punya nama di dunia hiburan Tanah Air.

    Tetapi, ia tidak lantas langsung menikmati hubungan seksual dengan para pelanggannya. Mulanya, kata Magdalena, dirinya deg-degan sebab pasangan selalu berganti. Terkadang ia ingin adegan intim berakhir secepat mungkin. Jika memungkinkan, apabila prianya tidak sesuai, ia mau tak perlu ada penjajakan tubuh, karena ia ingin uangnya saja. "Ya kalau mau sama gue, paling enggak elu siapin Rp 5 juta,” tuturnya.

    Magdalena memiliki kekasih yang tahu akan profesinya. Ia tinggal bersama di sebuah apartemen di Jakarta Selatan. Kekasihnya itu cuek dan tidak terlalu memperhatikan kebutuhan emosionalnya. Perlakuan kasar dari sang kekasih kerap diterimanya, termasuk saat berhubungan intim. "Gue kayak budak seks," ujarnya.

    Yang memprihatinkan, Magdalena harus membiayai hidup kekasihnya tersebut. Kalau sedang depresi, obat-obatan terlarang menjadi pelariannya. "Kuliah gue jadi terbengkalai," ujarnya. Simak Edisi Khusus Ayam Kampus di sini.

    HERU TRIYONO | PACIFICA

    Sang Adik pun Diajak Jadi Ayam

    Sang Adik pun Diajak Jadi Ayam

    Sang Adik pun Diajak Jadi Ayam
    Ilustrasi Seks Bebas/Kondom. zdravnitza.com
    TEMPO.CO , Jakarta:Selain soal keterbatasan ekonomi, latar belakang keluarga yang berantakan juga memantik niat mahasiswi terjun ke dunia pelacuran. Itu terjadi pada Sabrina, 24 tahun, bukan nama tulen.

    Baginya menjadi ayam kampus adalah sebuah tuntutan. Karena ia merasa harus menghidupi enam anggota keluarganya. Ayahnya meninggalkannya, lalu menikah lagi, dan tidak memberi nafkah sepeser pun. "Aku terdesak mencari uang untuk mama dan adik-adik," ujarnya kepada Tempo di sebuah tempat hiburan di Bogor, beberapa waktu lalu.

    Sabrina sudah lama bergelut di dunia esek-esek. Sebelum kuliah di salah satu universitas swasta di Bogor, ia sudah menjadi "ayam putih abu-abu" ketika duduk di sekolah menengah atas. Jaringan pelanggan, awalnya ia dapatkan dari temannya, yang dikenal sebagai siswi "bispak" alias "bisa dipake". Ia sendiri menyadari tubuh seksinya merupakan potensi besar menggaet para pria hidung belang. "Banyak yang bilang aku semok," ujar dia, yang selalu membawa kondom di tas.

    Ia mengatakan tidak mungkin mengandalkan asupan uang dari ibunya, yang menganggur, dan kakak perempuannya, yang menderita keterbatasan mental. Adik-adiknya sendiri masih sekolah, sehingga butuh uang untuk membeli buku dan bayar semesteran. Demi kelangsungan hidup keluarga, Sabrina rela, jika hampir setiap malam melayani pria yang ingin "tidur" dengannya. "Mau bagaimana? aku ini sudah jadi tulang punggung," katanya.

    Keseharian Sabrina jomplang dengan profesinya. Ia seorang yang relijius dan mengaku selalu menunaikan ibadah solat. Bahkan ia fasih mengaji. Ilmu agama itu ia dapat semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. "Dulu aku sekolah madrasah,” kata Sabrina, yang memiliki wajah putih dengan bentuk oriental.

    Sebentar lagi, Sabrina akan menikah. "Sistem estafet" pun ia berlakukan. Untuk membantu perekonomian keluarga, dengan terpaksa, ia menjadikan salah satu adik wanitanya sebagai simpanan seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasanya. "Adik melanjutkan dulu, biar uang si om tidak kemana-mana,” ujar penggemar film serial "Sex and The City" ini.

    Menurut dia, adiknya tidak keberatan sama sekali dan justru menikmati profesi itu. Bahkan, pelanggannya menjadi lebih banyak darinya. Ia pun merasa senang jika sang adik mendapatkan lelaki kaya yang mengajaknya menikmati malam di hotel berbintang. "Dengan begitu pengalamannya akan bertambah, wilayah operasi jangan lokal saja," ujarnya tertawa kecil.

    Dalam tiga tahun, ia bisa membeli mobil Avanza dan rumah, juga mendirikan usaha toko telepon seluler. Bagaimana tidak, sekali di ajak kencan ia bisa meraup Rp 30 juta. Sekali kencan yang dimaksudnya bisa berlangsung selama satu sampai dua minggu.

    Ibu dan nenek, yang tinggal satu rumah dengannya, tahu pembelian barang-barang itu berasal dari uang seperti apa. Karena sejak awal, ia terbuka dengan pekerjaannya. “Kalau aku tidak pulang, mereka (nenek dan ibunya) tidak bertanya,” ujar Sabrina yang belum berniat meninggalkan dunia prostitusi.

    HERU TRIYONO | PACIFICA

    Kuliah Tak Dijemput, Pulang Tunggu "Panggilan"

    Kuliah Tak Dijemput, Pulang Tunggu "Panggilan"

    Kuliah Tak Dijemput, Pulang Tunggu
    Sejumlah wanita penghuni wisma menutupi wajahnya saat razia kependudukan dikawasan lokalisasi Dolly, Surabaya, Rabu (7/9). Razia dilakukan untuk mendata kembali jumlah PSK yang cenderung bertambah seusai lebaran. Dikawasan lokalisasi Dolly terdapat 57 wisma dan 1128 pekerja sek komersial. TEMPO/Fully Syafi
    TEMPO.CO, Jakarta- Sebut saja Santi, 19 tahun, tidak terlalu cantik. Tetapi dengan "hot pants" hitam dipadu blazer, penampilan dara berambut panjang itu amat mengundang perhatian. Kemolekan bodinya yang sebelas dua belas dengan peragawati menjadi santapan lezat setiap mata pengunjung sebuah kafe di Kemang, Jakarta Selatan. Di tempat itu, Tempo menemuinya, dua pekan lalu.

    Di kampusnya, sebuah universitas swasta di Jakarta Pusat, perempuan asal Medan tersebut dikenal ramah dan bergaul. Dan hampir semua tahu, ia adalah mahasiswi "panggilan", alias ayam kampus.

    Santi satu "tongkrongan" dengan Maharani Suciono, mahasiswi 19 tahun yang turut diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama perantara suap impor daging, Ahmad Fathanah, di Hotel Le Meridien, Jakarta. Keduanya sama-sama mengambil jurusan ilmu komunikasi. "Kita sering nongkrong di kafe depan kampus. Tapi karena dia (Maharani) "ke-gap", pin bbm gue dihapus," ujarnya dengan mimik sedih.

    Ia meyakini ada "Maharani" lain di kampus, termasuk dirinya. Keberadaan para ayam ini, kata dia, tersamar, karena kebanyakan lihai menyamar. Beberapa ayam memang berpenampilan sederhana, sehingga menipu. Sama dengan mahasiswi lain, para ayam, menurutnya, juga rajin datang ke kampus, tetapi belum tentu masuk kelas. "Pulangnya tunggu jemputan atau panggilan deh," katanya.

    Bagi Santi, mengumpulkan uang belasan juta rupiah dalam sepekan bukan perkara sulit. Komisi Rp 10 juta yang diterima Maharani dinilainya juga standar. Di sebuah tempat hiburan malam di Jakarta Pusat, ujar dia, Rp 10 juta itu baru tips. Tapi memang, ditambahkannya, ayam yang dibayar sebesar itu memiliki spesifikasi fisik dengan standar tinggi. "Ya selevel model lah," ujar Santi yang mengaku bisa melayani "short time" dan "long time".

    Kasus Maharani ini mengangkat kembali fenomena "ayam kampus". Dari penelusuran Tempo, keberadaannya bukan cuma di swasta saja, di kampus plat merah, bahkan di perguruan tinggi agama, juga marak. Kebanyakan ayam kampus atau disebut culai adalah peliharaan mucikari alias germo. Germo inilah yang menjembatani para ayam ke pelanggan.

    Menurut salah satu mucikari, Doni, bukan nama tulen, sebutan ayam kampus sendiri mengartikan dua sisi identititas. Di samping belajar sebagai kegiatan utama, mahasiswi penyandang status ayam juga "mengerami telur" para pria hidung belang. "Itulah mengapa disebut ayam kampus," katanya.

    Dalam pandangan Doni, status sebagai mahasiswi amat bisa meningkatkan harga pasaran si ayam. Sebab itu, banyak wanita, yang sebenarnya penjaja seks, memilih kuliah. "Tetapi ada yang benar mahasiswi juga," ujar Doni. Modus untuk meningkatkan harga jual, menurutnya, sama saja dengan menjadi model sampul di sebuah majalah lelaki dewasa.

    Dari penelusuran Tempo, harga mahasiswi esek-esek ini dipatok mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 10 juta, bahkan lebih. Hitungannya juga berbeda-beda. Ada yang hitungannya sekali berhubungan intim saja, ada yang sehari, dan ada yang sampai dibawa ke luar kota atau luar negara. "Yang sampai sepekan di luar negeri tentu harganya bisa lima kali lipat," kata Doni.

    Pendapatan rata-rata para ayam ini bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Beda Rp 2 juta dengan gaji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Angka itu berdasarkan keterangan dari Doni yang memelihara 10 ayam kampus. "Mereka sudah kaya-kaya loh," ujarnya.

    Nora, mucikari lain, juga bukan nama sebenarnya, menuturkan, jaringan ayam kampus dikelola profesional. Beberapa mucikari menurutnya selektif mencarikan pelanggan untuk ayamnya. Ia mengatakan, ayam yang murah biasanya memiliki kelainan seksual atau penyakit kelamin. "Kalau culai gue itu ada kode etik dan sehat, alias bersih penyakit," ujarnya.

    Pelanggan ayam peliharaan Doni dan Nora bukan orang sembarangan. Mereka selevel menteri, pejabat teras militer, bahkan anak pejabat. Menurut Nora, tidak semua pejabat meminta ayam kampus untuk berhubungan intim. Ada istilah namanya "Three D". Yaitu, si ayam cuma menemani pejabat untuk menghisap heroin, sabu dan inex, tanpa melakukan penetrasi.

    Tempo menelusuri jejak-jejak para ayam kampus ini, mulai dari perekrutan, praktek transaksi, hingga sisi lain kehidupan para ayam.


    HERU TRIYONO|PACIFICA
     
     photo MISS_GHANA_BOOT_CAMP_Naijapalsdotcom_zps5ddf8c77.jpg
     photo NewPicture7_zps016b21bf.png