Headlines News :

 photo vanuatu_zpsed2b2tvn.jpg
IPMAPUJA News And Media. Diberdayakan oleh Blogger.

    Life Style

     photo rt_zpsd46b958b.jpg
    Tampilkan postingan dengan label Free West Papua. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Free West Papua. Tampilkan semua postingan

    Mendengar Hasil Kelulusan Dihiasi Baju Bintang Kejora

    Mendengar Hasil Kelulusan Dihiasi Baju Bintang Kejora

    Siswa-siswi Smk Petra Timika
    Siswa-siswi Smk Petra Timika
    Timika, KNPBNews – Anak-anak Pelajar SMK/SMA di Timika, hari selasa dan hari rabu, tanggal, 20-21 Mei 2014 mendengar hasil kelulusan mereka, Pada momentum dengar hasil kelulusan tingkat Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMA-SMK) anak-anak Papua menghiasi baju dengan  menggambar “Bintang Kejora” di Dada mereka seperti siswi yang SMK Petra Timika ini Mereka bertiga sangat bangsa dengan hasil yang diumumkan guru mereka.


    Kata seorang pelajar ketika di tanya oleh sala satu Guru mereka, pak kita  hari ini mau coret-ceret baju dengan nuangsa Nasionalisme Papua yakni mau gambar Bintang kejora. setelah itu ada sekelompok anak laki-laki juga datang bergabung bersama dengan ketiga siswi itu.
    “katanya mereka saling coret-coret di baju dan celana sambil menggambar bendera Papua bintang kejora di depan dada dan belang baju mereka”.

    Hasil kelulusan di tanah Papua sebanyak 300 siswa-siswi tidak lulus.  Ketika di tanya, jawab mereka, kami juga pertama sangat gugup tapi kami sangat senang karena kami sudah lulus tanpa syarat. kami bersyukur kepada Tuhan. atas kelulusan ini. kata ketiga siswa tersebut.

    PUCAK JAYA POST - OPM Emoh Dialog dengan Jakarta

    PUNCAK JAYA POST - OPM Emoh Dialog dengan Jakarta



    foto
    Suara Mahasiswa Papua - Malang
    Jakarta - Tokoh-tokoh Organisasi Papua Merdeka enggan menggelar dialog dengan perwakilan pemerintah Indonesia. Mereka menuntut digelar perundingan yang juga menghadirkan perwakilan pihak ketiga.

    “Kami tidak mau dialog. Kalau perundingan, ayo kita lakukan,” kata Agustinus Runtuboy melalui sambungan telepon, Selasa, 22 November 2011. Syarat untuk perundingan, kata Agustinus, adanya pengakuan pemerintah Indonesia bahwa jajak pendapat penyatuan Papua pada 1969 tidak sah karena berbagai kecurangan. “Kami butuh pengakuan itu,” ujar pria 65 tahun ini.

    Hal itu dikatakannya terkait pernyataan Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat, Bambang Darmono. Dalam wawancara dengan Majalah Tempo, Bambang menyatakan akan mengajak semua komponen Papua untuk berdialog, seperti OPM, Majelis Rakyat Papua, dan lainnya. “Ini bukan soal tolak atau terima (referendum), melainkan dialog,” kata Bambang.

    Celsius Sergei Wapay, rekan Agustinus, menambahkan, proses integrasi Papua ke Indonesia melalui pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 penuh manipulasi sekalipun di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Kami sudah deklarasi kemerdekaan 1 Desember 1961 dan diakui Belanda,” kata dia.

    Menurut Celsius, yang dibutuhkan Papua adalah pengakuan pemerintah Indonesia atas kedaulatan Papua. “Kalau Jakarta tidak mau mengakui itu, kami akan terus berjuang sampai mendapatkan pengakuan itu,” ujarnya. Solusinya, kata Celsius, perundingan antara pemerintah Indonesia dan OPM yang juga dihadiri PBB, pemerintah Amerika Serikat, dan Belanda.

    Benny Wenda Tiba Di AS, Besok Ketemu Senator AS

    Posted: 04 Feb 2013 09:39 AM PST

         Benny Wenda
    New York, KNPBnews – Pemimpin Papua Merdeka, yang juga sebagai Koordinator Diplomat Internasional, Benny Wenda saat ini berada di New York, Amerika Serikat dalam agenda perjalanan diplomasi “Freedom Tour”. Selama di AS, Benny Wenda akan bertemu dengan 6 anggota kongresman.

    Benny Wenda, kepada Badan Pengurus Pusat KNPB siang ini (3/2) mengatakan bahwa dirinya saat ini bersama-sama dengan Oktovianus Mote, diplomat Papua Merdeka di Amerika Serikat dan telah menjadwalkan pertemuan dengan beberapa kongresman Amerika Serikat.
    “Ini adalah perang diplomasih terbuka dengan Indonesia, oleh karena itu kami akan menggunakan cara-cara yang resmi dalam melakukan diplomasi internasional bagi kemerdekaan West Papua”, tutur Benny Wenda.

    Semalam (1/2) waktu New York, Benny Wenda telah lakukan pertemuan dengan Bill Perkins. Selain itu, Benny Wenda juga telah bertemu dengan para pendukung Papua Merdeka dan aktivis lain seperti seperti Herman Wainggai untuk menyatukan isu dan agenda perjuangan West Papua.  Pada tanggal 6 Februari, Benny Wenda akan berbicara tentang situasi West Papua di New York, bersama-sama dengan politisi dan NGO internasional.

    Perjalanan diplomasi ini akan berlanjut ke New Zealand, Australia, Vanuatu dan Port Moresby.
    Pertemuan dengan Senator Bill Perkins (dok)


    Benny Wenda bertemu dengan Herman Wainggai
    Posted: 04 Feb 2013 09:36 AM PST
    An analyst says the Melanesian Spearhead Group is likely to accept West Papua as a member of the sub-regional organisation.
    The comment from Ben Bohane, the communications director of the Pacific Institute of Public Policy, comes after the West Papua National Coalition for Independence formally submitted a membership application.
    MSG backing for Papua has waned in recent years and two years ago, Indonesia was given MSG observer status despite strong objections by West Papuans.
    However Ben Bohane says that support for emerging independent territories is strong in Melanesia.
    “And the MSG will likely take them on board. And that will set up the Melanesian countries on some sort of - I won’t say collision path but it will certainly test its relations with Indonesia. If West Papua is admitted to the family as an observer, then it’s on a process to becoming a full member and then as a full member its position within the MSG would be considerably stronger than Indonesia’s.”
    Ben Bohane
    Posted: 04 Feb 2013 06:05 AM PST
    Press Realisse:
    Matius Murib, Pembela HAM, Direktur Baptis Voice Papua

    Pembela HAM di tanah Papua sangat protes dan menolak pernyataan pada buku baru oleh Jared Diamond tentang orang pribumi dengan judul bukunya; “The World Until Yesterday, What we can learn from traditional societies,” (“Dunia Sampai Kemarin, Apa yang kita bisa belajar dari masyarakat adat”).

    Buku ini menyebarkan prasangka rasis tentang orang Papua, dan penulis buku ini akan sampai di Inggris hari ini tangal 30 Januari 2013. Dan pada tanggal 05 Februari 2013 dia akan berpidato di London-Inggris dan publik di Eropa dan dunia akan menikmati informasi yang sangat sepihak.

    Penulis buku ini seharusnya berpandangan positif tentang orang pribumi; oleh karena sih penulis sampaikan bahwa kita bisa belajar dari masyarakat adat. Namun, ada sejumlah masalah besar dengan buku ini yang penulis sampaikan pesan yang berbahaya dan merendahkan; antara lain:

    1. Terkesan bahwa seolah-olah orang pribumi di Papua masih mewujudkan hidup mereka pada hidup ribuan tahun yang lalu. Ini tidak benar dan memperkuatkan ide yang rasis bahwa orang pribumi adalah ‘terbelakang,’ ‘hidup dalam masa lalu,’ atau bahkan ‘zaman batu.’
    2. Terkesan bahwa perang suku dan kekerasan, yang difokuskan terhadap orang dari suku Dani pada tahun1960-an. Penulis merincikan perang suku Dani sebagai ‘perang kronis.’ Dia bilang bahwa ‘Orang Dani berperang setiap bulan selama setiap tahun.’ Kesan untuk sih pembaca adalah bahwa orang pribumi dari suku Dani ini adalah keras dan buas, menguatkan prasangka yang sering dipakai untuk merugikan orang pribumi. 
    3. Jared Diamond, penulis buku ini, juga berpendapat bahwa orang pribumi sudah mendapat manfaat dari penguasa Negara dalam kehidupan mereka karena penguasaan ini sudah menghentikan perang suku. Dia menulis: “Orang Nugini menghargai manfaat dari perdamaian yang dijamin oleh penguasaan Negara, yang mereka tidak bisa mencapai sendiri.” Dia juga menulis bahwa “kebanyakan masyarakat skala-kecil menjadi terjebak dalam siklus kekerasan dan perang. Pemerintah Negara memberikan pelayanan luar biasa dalam memutus siklus-siklus ini oleh kedatangan mereka sebagai pemonopolian kuasa.” 
    4. Yang kami memprotes Jared Diamond adalah karena penulis buku ini sama sekali tidak menyebutkan kebrutalan prajurit atau militer Indonesia dalam aksi pembunuhan, pemerkosaan dan pengusiran orang Papua Barat.
    5. Buku ini terkesan sangat tidak berimbang dan obyektif dengan realitas di tanah Papua sampai hari ini; dari penulisan seperti ini, kami menduga penulis adalah agent atau kaki-tangan penguasa untuk melemahkan posisi dan eksistensi kehidupan masyarakat pribumi dan suku-suku asli di tanah Papua. 
    6. Penulis buku dan penguasa harus berhenti dan stop memberikan stigmanisasi yang merendahkan martabat dan harkat masyarakat pribumi, seperti suku Dani dan 200-an lebih suku-suku asli di tanah Papua. 
    7. Penulis buku ini, Penguasa dan semua pihak harus tahu bahwa sejak tahun 1960-an hingga hari ini, 30 Januari 2013 yang dominan menggunakan cara-cara dan pendekatan kekerasan dan dengan cara sangat brutal adalah militer Indonesia, yang dikenal institusi yang bernama TNI dan Polri bukan masyarakat pribumi yang adalah orang asli Papua. 
    Salam damai untuk semua dari tanah yang dikenal situs kekerasan dan wilayah konflik Papua Barat.
    Kontak Person:
    Matius Murib, Koordinator Pembela HAM dan
    Direktur Baptis Voice di tanah Papua
    Jalan Pipa Air Uncen Atas, Abepura, Jayapura, Papua Barat
    Mobile: 08124892975, email: matiusmurib@yahoo.com, BB: 2A97B47C

    Daftar Organisasi Pendukung Gerakan Papua Merdeka di Luar Negeri

    Setuju: Patut direnungkan: Daftar Organisasi Pendukung Gerakan Papua Merdeka di Luar Negeri

     
    Setuju, jawabannya adalah membangun seluruh wilayah Indonesia dengan
    baik. dan itu bisa berhasil jika tidak dikorupsi oleh pejabat pusat dan pejabat daerah.
    Bangsa ini butuh pemimpin yang punya niat membangun negeri

    Yang ada sekarang mungkin hanya pemimpin yang ingin tampil, ingin populer dan ingin lebih kaya dibanding masyarakat yang lain, sehingga sama sekali tidak ada niat (apalagi tindakan) untuk
    membangun negeri. Mereka mungkin tidak berpikir bahwa apa yang mereka
    lakukan itu langsung maupun tidak langsung adalah membunuh anak cucu
    bangsa ini dimasa depan (termasuk anak keturunan mereka sendiri)
    jadi yang ada sekarang adalah pemimpin yang egois

    Hal ini diperparah oleh sikap sebagian besar masyarakat, yang melanggengkan hal itu, dengan sikap cueknya, dan dengan sikap asal
    dapat duit sehingga mengabaikan masa depan dirinya sendiri (bisa
    dilihat dalam pemilihan umum, maupun pemilihan kepala daerah, ternyata uang receh dianggap oleh sebagian besar masyarakat lebih berharga daripada masa depan)
    ______________________________________________
    23/7/12, Erik Sastro <eriksastro@yahoo.com.sg> menulis:
    hal lain yang patut dipikirkan dan dikerjakan oleh pemerintah kita
    adalah bagaimana membangun papua dengan baik, sehingga dengan kekayaan alam yang demikian melimpah, mereka tidak hidup layaknya dijaman batu.

    bagaimana juga pembangunan itu dananya tidak nyangkut ke kantong pejabat pusat dan daerah, sehingga memang bisa membangun papua

    semoga papua bisa maju tanpa harus lepas dari Indonesia, karena
    propaganda asing-pun juga akan menghasilkan penjajahan baru, seperti
    yang terjadi di afrika selatan dll

    ___________________________________________________

    21/7/12, Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@yahoo.com> wrote:

    http://politik.kompasiana.com/2012/07/08/daftar-organisasi-pendukung-gerakan-papua-merdeka-di-luar-negeri/

    Daftar Organisasi Pendukung Gerakan Papua Merdeka di Luar Negeri

    Belajar dari kasus Timor Timur yang kini telah berubah menjadi

    Negara Timor Leste, dimana keterlibatan pihak asing terbukti sangat

    kental disana, saya tertarik untuk share di forum ini pemberitaan sebuah

    situs tentang daftar sejumlah organisasi/lembaga non pemerintah (NGO)

    di luar negeri yang diketahui menjadi pendukung gerakan Papua Merdeka

    (OPM).

    NGO-NGO itu tersebar di berbagai negara, seperti di Inggris,

    Australia, Selandia Baru, Belanda, Jerman, Perancis hingga Canada.

    Bahkan Amerika Serikat pemilik perusahaan pertambangan raksasa PT.

    Freeport ternyata memiliki delapan NGO pendukung gerakan separatis Papua

    yang sering bikin onar di areal PT. Freeport di Timika.

    Jika daftar ini benar, maka benar sinyalemen sejumlah tokoh

    nasional tentang hal itu, sebagaimana terwakilkan dalam pernyataan Wakil

    Ketua Komisi I TB Hasanuddin, yang mengatakan kasus kekerasan di Papua

    karena ada keterlibatan pihak asing. Jadi pelakunya asing, dan asli

    daerah yang dibina.

    http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/3930

    Menurut Hasanuddin, jika dilihat dari wilayah penyebaran aksi

    penembakan dan waktu kejadiannya terlihat jelas bahwa aksi itu

    terorganir dengan rapi. Ini sudah sistematis dalam memilih sasaran,

    direncanakan dengan baik dan dengan biaya yang cukup besar. Dari manakah

    sumber dana itu?

    http://www.detiknews.net/read/2012/06/09/asing-ditengarai-jadi-penyandang-dana-kisruh-papua/

    Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin juga sependapat.

    Menurutnya, kekisruhan yang terjadi di Papua karena ada indikasi

    intervensi pihak asing yang mungkin saja ada kepentingan tertentu di

    daerah tersebut. Karenanya, ia meminta Pemerintah Republik Indonesia

    untuk berhati-hati dalam menyikapi konflik di Papua.

    http://banjarmasin.tribunnews.com/2012/06/18/din-syamsudin-di-papua-ada-indikasi-intervensi-asing

    Lengkapnya, Kompasianer bisa melihat daftar berikut :

    DAFTAR ORGANISASI / LEMBAGA PENDUKUNG GERAKAN PAPUA MERDEKA

    DI LUAR NEGERI

    I. Di Inggris

    West Papua Ascociation
    Tapol the Indonesian Human Right Campaign
    Forest People Programme

    National Union of Student

    The Foundationfor Endagered Languages. 6) Down to Earth

    World Development Movement

    Colombia Solidarity Campaign

    Oxford Papua right for Campaign

    Cambridge Campaighn for Peace

    II. Di Australia

    Australia West Papua Asscociation

    Internasional Volunteer for Peace

    Medical Asscociation for Prevention of War

    Pax Christi

    Religius Society for Friends (Quakers)

    III. Di Belanda

    West Papuan Women Asscociation in the Netherlands

    Chlindrern of Papua

    Foundation Pro Papua, established by veterans former Dutch New Guienea

    West Papua Courier

    Movement Peace, Human Right, Communication and Develeopment

    PaVo-Papuan People'Fundation

    The Netherlands Centre for Indigenous People

    IV. Di Selandia baru

    Indonesia Human Right Committee.

    Peace Movement Aotearoa.

    Women's International League for Peace and Freedom.

    Section, Aoteorea.

    Peace Foundation, Aoteorea.

    Christian World Service.

    Disarmamment & Security Centre.

    Global Peace and Justice Auckland.

    Pax Christi Aotearea.

    The New Zealand Council of Economic and Culturights.

    Women for Peace.

    The Alliance Party.

    V. Di Irlandia

    West Papua Action-iriandia

    Just Forrest-iriandia

    TibetSupport Group-lrlandia

    Afri-iriandia

    Committee of 100-Finlandia

    East Timor Ireland Solidarity Campaign-iriandia

    Cuba Support Group-lrlandia

    Latin America Solidarity Centre-iriandia

    Trocaire, the Catholic Agency for World Development- Irlandia

    Forest Friend Ireland/Cairde na Coille-Dublin

    Alternatives to Violence-Belfast

    VI. Di Amerika Serikat dan Kanada

    East Timor Action Network (ET AN).

    International Physicians for the Prevetion of Nuclear War

    Indonesia Human Rights Network-USA

    Papuan American Student Association-Washington DC, New York, California, Taxas dan Hawai.

    West Papua Action Network (WESPAN)-Kanada.

    Canadian Ecumenical Justice Intiviatives-Kanada

    Canadian Action for Indonesia & East Timor-Kanada

    Canadians Concerned About Ethnic Violence in Indonesia- Kanada.

    VII. Di Belgia, Nepal, Swedia

    KWIA-Flanders (Belgia)

    Coalition of the Flemish North South Movement-Brussels Belgium.

    Nepal Indigenous Peoples Development and Information Service Centre (NIPDISC)-Nepal.

    Anti-Racism Information Service-Switzerland

    Swedish Association for Free Papua-Sweden

    VIII. Di Perancis, Jerman, Norwegia, Denmark

    Survivallnternational-Perancis

    German Paciffic-Network-Jerman i

    Regnskogsfondet-Oslo, Norwegia

    International Work Group for Ondigenous Affairs-Denmark

    IX. Di Fiji, Uganda dan Timor- Timur

    Paciffic Concerns Resource Centre (PCRC)-Fiji Island

    Foundation for Human Right Intiative (FHRI)-Uganda

    International Platform of Jurists for East Timor- Timur.

    Sumber : http://tsakti.wordpress.com/2012/07/04/organisasi-lembaga-ngo-pendukung-gerakan-papua-merdeka-di-luar-negeri/

    __._,_.___
    Recent Activity:
    Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : inti-net-subscribe@yahoogroups.com

    Kunjungi situs INTI-net   
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net

    Kunjungi Blog INTI-net
    http://tionghoanet.blogspot.com/
    http://tionghoanets.blogspot.com/

    Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
    http://jakartametronews.blogspot.com/
    http://jakartapost.blogspot.com
    http://indonesiaupdates.blogspot.com

    *Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

    CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
    http://adv.justbeenpaid.com/?r=kQSQqbUGUh&p=jsstripler5
    .

    Pendukung Papua Merdeka tak Perlu Ditakuti

    Pendukung Papua Merdeka tak Perlu Ditakuti

    Pendukung Papua Merdeka
    Pendukung Papua Merdeka
    PUCAKJAYAPOST.COM, JAYAPURA – Tokoh masyarakat Papua, Frans Alberth Yocku, meminta pemerintah Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan gerakan atau kegiatan yang gencar dilakukan oleh kelompok pendukung Papua Merdeka di luar negeri.

    "Pemerintah maupun TNI/Polri tidak perlu takut, karena Papua adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI," tegas Frans Yocku di Jayapura, Sabtu (7/4).

    Menurut dia, kelompok pendukung atau LSM di luar negeri yang gencar mendukung Papua Merdeka hanyalah segelintir orang saja. "Saya juga pernah menjadi bagian dari kelompok tersebut," akunya.

    Yocku menegaskan, saat ini situasi dan kondisi di Indonesia, khususnya Papua sudah berubah. Sebab, sejak reformasi rakyat sudah bebas mengemukakan pendapat tanpa diliputi rasa takut, sementara kesejahteraan juga semakin dirasakan oleh masyarakat.

    Sebelum era reformasi, kata dia, masyarakat memang tidak dapat mengemukakan pendapat karena takut ditangkap aparat keamanan. Dan dirinya saat itu sempat menjadi 'Menteri Luar Negeri' saat almarhum Theys Eluay menjadi ketua di Presidium Dewan Papua (PDP), dan ia masih warga negara Papua Nugini (PNG).

    Bahkan, Yocku mengaku sebagai salah satu arsitek atau penggagas dibentuknya kelompok atau LSM di luar negeri yang selama ini bergerak di bidang Papua Merdeka, seperti IPWP.

    Ia bersama beberapa tokoh Papua yang selama ini menyuarakan 'Papua Merdeka' di luar negeri, saat ini kembali menjadi WNI dan bermukim di Papua.

    Yocku telah melihat langsung perubahan yang terjadi, sehingga dirinya berharap kelompok yang saat ini seringkali menyuarakan kemerdekaan bagi Papua tidak lagi menggelar aksi yang akhirnya malah membuat masyarakat resah.


    Redaktur: Chairul Akhmad
    Sumber: Antara

    Dewan Gereja: Rakyat Papua Berhak Putuskan NKRI atau Merdeka

    Dewan Gereja: Rakyat Papua Berhak Putuskan NKRI atau Merdeka

    Selasa, 24 April 2012
    Hidayatullah.com—Dewan Gereja Sedunia dalam statemen terbarunya menyiratkan rakyat Papua berhak memutuskan ikut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau merdeka.
    "Apakah yang terbaik itu merdeka ataukah yang terbaik itu masih menjadi bagian dari NKRI? Yang kita tahu masih banyak masalah di dalamnya. Ataukah yang terbaik itu dengan implementasi otsus atau apa? Itu bahan pertimbangan Dewan Gereja Sedunia. Bahwa masyarakat asli Papua harus diberiknh hak untuk menentukan nasib mereka," demikian kesimpulan Dewan Gereja dikutip Novel Matindas dari Biro Papua, di Persatuan Gereja Indonesia PGI sebagaimana dimuat Radio Nederland, Senin (23/04/2012).

    Sementara itu Oridek Ap dari Free West Papua di Belanda, mengatakan, pernyataan Dewan Gereja Sedunia itu merupakan langkah awal menuju kemerdekaan. Gereja sebetulnya harus bicara soal firman Tuhan. Kalau gereja bisa merasa perlu untuk membela bangsa, maka itu tidak ada salahnya.

    "Kalau gereja harus bicara politik untuk membela masyarakat dalam memperjuangkan aspirasi hidup, maka gereja tidak salah untuk berbuat seperti itu. Gereja wajib juga untuk membela jemaatnya. Sangat sulit sebetulnya persoalan ini, gereja memiliki posisi penting untuk membela masyarakat," demikian kutip Oridek Ap.

    Meski demikian, menurut Novel, tidak semua orang Papua ingin memisahkan diri.

    "Tidak semua orang Papua mau merdeka. Dalam arti merdeka secara politis. Nah, ada yang mau merdeka tapi secara ekonomi. Atau ingin merasakan hidup yang tentram dan damai. Yang mereka perjuangkan terutama kesamaan hak sebagai warga negara Indonesia. Yang terakhir ini masih ingin bergabung dengan Indonesia." *

    Papua : 2 Brimob Tewas, Bripda Syukur Selamat

     Bintang Papua News : 2 Brimob Tewas, Bripda Syukur Selamat2 Brimob Tewas, Bripda Syukur Selamat
     
     Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vanroy Pakpahan

    2 Brimob di Papua Tewas
    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Brigadir dua Syukur, anggota Brimob Detasemen C Sorong yang ikut tertembak oleh sekelompok orang tak dikenal di Kali Semen, Kampung Wandinggobak, Puncak Jaya Papua masih menjalani perawatan intensif setelah selamat dari maut.
    "Dia masih dalam perawatan," ujar Kabid Humas Polda Papua Wahyono saat dihubungi, Sabtu (3/12).
    Syukur, kata Wahyono, tertembak di bagian kakinya. Sedangkan kelompok penembak belum diketahui identitasnya. Mereka, kata Wahyono, masih dalam buruan anggota kepolisian disana.

    Syukur lebih beruntung dari dua rekannya yang lain yaitu Brigadir dua Feriyanti Kaluku dan Brgadir dua Eko Alfriansyah. Keduanya harus meregang nyawa akibat terkena timah panas kelompok bersenjata, sore ini
    Kedua polisi ini tewas setelah dihadang kelompok bersenjata di Papua.  Saud menjelaskan, penghadangan terjadi saat satu rombongan Brimob baru pulang dari menjemput dua anggota Brimob yang sakit di pos Tinggi Nambut. Tiba-tiba, di perjalanan kelompok bersenjata langsung menghadang dan melakukan penembakan.
    Saat ini, lanjut Saud, petugas masih melakukan penyisiran dan pengejaran terhadap para pelaku.

    Penulis: Vanroy Pakpahan  |  Editor: Yulis Sulistyawan
    Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
     
     photo MISS_GHANA_BOOT_CAMP_Naijapalsdotcom_zps5ddf8c77.jpg
     photo NewPicture7_zps016b21bf.png